Dunia Kereta dan Dunia Listrik, Ada disini!

Jumat, 26 April 2019

Dunia Kereta - Dual Power Locomotive - Part 2


Artikel ini merupakan pembahasan lanjutan dari artikel Dual Power Locomotive – Part 1. Silakan baca part 1 untuk lebih jelasnya.


Gambar 4. Skema kelistrikan utama

Gambar 4 menunjukkan skema kelistrikan utama pada lokomotif ALP-45DP. Dimana skema tersebut menunjukkan adanya sebuah trafo dengan dua buah belitan sekunder yang masing – masing terhubung dengan dua buah blok converter. Ada juga dua engine dan dua alternator yang tercouple dan masing – masing terhubung ke salah satu block converter. Blok converter adalah tempat untuk mengolah daya listrik dari sumber baik itu LAA melalui trafo maupun dari mesin diesel melalui alternator menjadi daya listrik yang mempu menggerakkan motor traksi dan mensuplay system auxiliary.


Masing – masing block converter ini terdapat 4QC (Quadrand Converter), Chopper, Brake resistor, Traction inverter dan auxiliary inverter. 4QC disini berfungsi sebagai rectifier yang mengubah listrik AC dari trafo maupun alternator menjadi listrik DC. Listrik DC kemudian masuk ke traction inverter untuk diolah menjadi listrik AC 3 phase variable untuk mengatur gerak motor traksi, pada jalur ini juga terkoneksi chopper yang berfungsi untuk membuang energy hasil dynamical braking menuju resistor. Sedangkan listrik DC dari 4QC satunya langsung masuk ke auxiliary inverter untuk mensuply system auxiliary.

Masing – masing motor traksi disuply secara individual dengan satu traction inverter, sehingga total ada empat traction inverter. Sedangkan auxiliary inverter ada dua, satu di masing – masing converter box. Pada kondisi normal, hanya satu auxiliary inverter yang mensuplay beban auxiliary karena sudah mencukupi, sedangkan yang satunya berfungsi sebagai back up. Sedangkan jika ada salah satu traction inverter rusak, maka tenaga kereta berkurang yang berimbas pada kecepatan kereta yang berkurang.

Selanjutnya akan kita bahas bagaimana cara perpindahan sumber energinya dilakukan dari diesel ke listrik dan sebaliknya. Pada perubahan dari mode diesel ke listrik dilakukan sebagai berikut. Pada kondisi normal dua engine menyala, kemudian salah satu engine dimatikan (missal engine 2). Pada kondisi ini converter 2 masih mendapatkan supply dari engine satu dengan adanya koneksi pada DC link. Kemudian pantograph naik dan mensupply listrik ke trafo, bagian sekunder trafo mensuplay 4QC. Ketika output 4QC sudah sama dengan kondisi DC link maka listrik DC dari sumber LAA bisa dikoneksikan secara parallel dengan DC-link, satu dari diesel, satu dari LAA. Kemudian engine 1 mulai dimatikan dan trafo sekunder pada sisi converter satu disambungkan. Selanjutnya kereta disupply full secara elektrik dari LAA. Perpindahan dari mode elektrik ke mode diesel dilakukan dengan cara yang sama.

Gambar 5. Sisi dalam cabin lokomotif ALP-45DP

Pada saat perpindahan mode dari diesel ke elektrik dan sebaliknya, listrik pada DC link masih tetap ada sehingga system auxiliary kereta masih bisa menyala demikian pula system propulsinya. Akan tetapi, pada desain awal kereta ini, perpindahan mode dilakukan pada saat kereta berhenti atau tidak ada daya ke system propulsi.

Demikian pembahasan sekilas tentang lokomotif dual power, ALP-45DP semoga bisa menambah wawasan kita tentang teknologi yang ada pada kereta api. Simak dan ikuti terus keretalistrik untuk mendapat update terkini mengenai teknologi perkeretaapian. Selain itu, jangan lupa follow instagram kami ya di @keretalistrik2007. Terima kasih.


Referensi:
Mark Hooley, James Martin, Gaetan Roy, The ALP-45 Dual Power Locomotive.

Share:

0 komentar :

Posting Komentar

Translate

Tentang Penulis

Tentang Penulis
[click foto utk detail]

Follow IG

Diberdayakan oleh Blogger.

Highlight

Dunia Kereta - Flywheel: Solusi Efisiensi Energi Kereta Listrik

Seperti telah kita pelajari bersama pada Sistem Propulsi Kereta Rel Listrik (KRL)  bahwa pada KRL memungkinkan tiga jenis pengereman yaitu ...

Flag Counter

Flag Counter