Dunia Kereta dan Dunia Listrik, Ada disini!

Senin, 28 Maret 2016

Rekruitmen Karyawan Tetap dan PKWT PT INKA(Persero) 2016


Perusahaan industri kereta api satu-satunya di Indonesia saat ini yang berlokasi di Madiun Jawa Timur yakni PT INKA(Persero) sedang memberikan peluang kepada talenta - talenta terbaik bangsa untuk bergabung mengembangkan industri perkereta apian dalam negari. Pada kesempatan kali ini PT INKA(Persero) membuka dua peluang yaitu untuk menjadi karyawan tetap dan juga karyawan PKWT(Perjanjian Kerja Waktu Tertentu). Peluang ini dibuka tanggal 24 Maret 2016 - 8 April 2016.

Penerimaan karyawan tetap PT INKA(Persero) dibuka untuk lulusan S1 atau D4 pada jurusan Teknik Mesin (dan jurusan yang serumpun), Teknik Informatika, Teknik Elektro, Teknik Industri, dan Akuntansi. Informasi ini bisa dilihat lebih lanjut di website resmi PT INKA(Persero), klik disini.

Sedangkan untuk PKWT yang memiliki jangka waktu kontrak selama 2 tahun dan bisa diperpanjang lagi dibuka untuk S1, D3, dan SMK dengan ketentuan:
  • S1 jurusan: Teknik Mesin (dan jurusan yang serumpun), Teknik Sipil, Teknik Elektro,Teknik Industri, Teknik Informatika, Desain Produk, dan Akuntansi.
  • D3 jurusan: Teknik Mesin (dan jurusan yang serumpun), Teknik Informatika, Ilmu Komputer, Bea & Cukai, Akuntansi, dan Administrasi Perkantoran.
  • SMK jurusan: Teknik Mesin (Permesinan/ Otomotif/ Kendaraan Ringan/ Pengelasan), Teknik Elektro, Teknik Sipil, Teknik Komputer & Jaringan, dan Administrasi Perkantoran.


Ketentuan lebih lanjut tentang penerimaan karyawan PKWT klik link ini.
Share:

Jumat, 18 Maret 2016

Dunia Kereta - Kode susunan roda pada Lokomotif

Setelah sebelumnya dijelaskan tentang roda kereta api, maka pada artikel ini akan dibahas tentang kode susunan roda pada lokomotif. Pada kendaraan rel khususnya Lokomotif, terdapat suatu susunan roda ( Wheel Arrangment ) yang diklasifikasikan berdasarkan bagaimana distribusi roda-roda tersebut di bawah lokomotif. Beberapa di bedakan menurut tipe, posisi dan koneksi dan kemudian dipakai di beberapa negara serta pada berbagai jenis lokomotif yaitu lokomotif uap, listrik maupun diesel. Terdapat 3 klasifikasi susunan roda yang dipakai secara umum di dunia yaitu AAR Wheel Arrangement, UIC Classification dan Whyte Notation.

1. AAR Wheel Arrangement
Merupakan Sistem klasifikasi yang dibuat oleh Asosiasi Perkereta-Apian Amerika atauAssociation of American Railroads ( AAR ). Klasifikasi ini digunakan luas di Amerika Utara yaitu untuk lokomotif diesel dan listrik, namun tidak untuk lokomotif uap. Sistem AAR menghitung jumlah poros roda bukan jumlah keping rodanya. Untuk pengkodeannya digunakan kombinasi huruf dan angka yang menentukan jumlah poros serta jenis porosnya apakah poros penggerak ( yang terhubung dengan motor traksi atau gear box ) atau poros idle / tak berpenggerak.

Metode klasifikasinya AAR :
  • Poros penggerak diberikan huruf kapital yang menyatakan jumlah berdasarkan urutan abjad, yaitu "A" untuk 1 poros penggerak, "B" untuk 2 poros penggerak, "C" untuk 3 poros penggerak dan seterusnya.
  •  Poros tak berpenggerak diberikan kode angka yang menyatakan jumlah, yaitu "1" untuk 1 roda tak berpenggerak, "2" untuk 2 roda tak berpenggerak, dan seterusnya.
  • Tanda "-" digunakan untuk menandakan roda-roda terletak pada bogie yang berbeda.
  • Tanda "+" digunakan jika menggunakan artikulasi.


Contoh Susunan Roda berdasarkan AAR Wheel Arrangement 
A1A-A1A : 
  • Berarti ada dua bogie pada lokomotif. Setiap bogie terdiri dari 1 poros berpenggerak - 1 poros tak berpenggerak - 1 poros berpenggerak.  Susunan ini umumnya dipakai untuk mendistribusikan berat kereta sehingga dapat  mengurangi tekanan gandar lokomotif.
  • B-B : Berarti ada dua bogie pada lokomotif. Setiap bogie terdiri dari 2 poros berpenggerak. Umumnya digunakan pada lokomotif dengan kecepatan tinggi namun untuk angkutan ringan.
  • C-C : Berarti ada 2 bogie pada lokomotif. Setiap bogie terdiri dari 3 poros berpenggerak. Tipe ini banyak di gunakan pada lokomotif beban dan banyak digunakan di berbagai negara termasuk di Indonesia.




 Gambar 1. Lokomotif EMD GP60 yang termasuk tipe B-B

2. UIC Classification
Merupakan sistem klasifikasi susunan roda pada lokomotof yang dibuat oleh Persatuan Kereta Api Internasional atau International Union of Railways ( UIC / Union Internationale des Chemins de fer ). Selain menetukan standar klasifikasi roda lokomotif, UIC juga membuat untuk KRD/KRL serta Tram. Sama seperti AAR, Klasifikasi UIC merujuk pada jumlah poros , berpenggerak atau tidak serta konfigurasinya seperti apa.

Metode Klasifikasi UIC :
  • Jumlah poros di nyatakan secara berurutan dengan huruf Kapital dalam urutan abjad, mulai dari "A" yang berarti poros tunggal, "B" berarti 2 pasang poros, "C" berarti 3 poros roda berurutan dan seterusnya.
  • Poros tak berpenggerak di nyatakan dalam jumlah berurutan mulai dari angka 1 untuk poros tunggal.
  • Huruf kecil bawah ( Lower-case ) "o" menyatakan poros yang digerakan secara individual oleh motor traksi.
  •  Tanda kutip (') menyatakan poros terpasang dalam satu bogie
  • Tanda tambah (+) menyatakan lokomotif yang teridiri dari rangkaian yang disambung namun secara mekanik merupakan unit terpisah.
  • Tanda kurung menyatakan grup huruf dan angka yang menyimbolkan konfigurasi poros dalam satu bogie.


Contoh susunan roda menurut UIC Classification :
  • (A1A)(A1A) : Berarti ada dua bogie pada lokomotif. Setiap bogie terdiri dari 1 poros berpenggerak - 1 poros tak berpenggerak - 1 poros berpenggerak.
  • BB : Berarti ada empat roda berpenggerak pada lokomotif, digerakan secara berpasangan, Setiap pasang tersambung dengan batang penghubung
  • B'B' : Berarti ada dua bogie pada lokomotif. Setiap bogie terdiri dari 2 poros berpenggerak yang tersambung dengan batang penghubung.
  • Bo'Bo' : Berarti ada dua bogie pada lokomotif. Setiap bogie terdiri dari 2 poros berpenggerak yang digerakan secara terpisah masing-masing oleh motor traksi.



Gambar 2. Lokomotif GE C40-8 ( Dash 8-40 ) yang termasuk tipe Co'Co'


3. Whyte Notation
Merupakan sistem klasifikasi susunan roda yang ditujukan khususnya untuk lokomotif uap yang dikembangkan oleh Frederick Methvan Whyte dan digunakan luas pada awal abad 20. Berbeda dengan klasifikasi AAR dan UIC, Bilangan Whyte bukan menghitung jumlah poros namun menghitung jumlah keping roda pada terpasang pada lokomotif. Konfigurasi menghitung jumlah roda pendahulu ( Leading Wheels ), Roda Penggerak ( Driving Wheels ) dan Roda Pengikut ( Trailing Wheel ).

Metode Klasifikasi Bilangan Whyte :
  • Jumlah keping roda dinyatakan dalam angka
  • Urutan penulisan adalah jumlah leading wheels kemudian jumlah Driving Wheels dan terakhir adalah jumlah Trailing Wheels
  • Jika tidak ada Leading Wheels atau Trailing Wheels maka tetap ditulis dengan angka 0.
  • Antar kelompok roda dihubungkan dengan tanda "-"
  • Untuk Lokomotif Artikulasi tipe Garrat ditambahkan tanda "+" diantara susunan roda pada tiap mesin.
  • Untuk lokomotif Artikulasi tipe Mallet maka kelompok Driving Wheels bisa disebut dua kali
  • Terdapat tambahan huruf yaitu untuk menyatakan Tanki dengan huruf "T", Rack dengan huruf "R", lokomotif Fireless disimbolkan dengan huruf "F"


Contoh susunan roda menurut Bilangan Whyte :
  •  4-6-2 : Berarti lokomotif mempunyai 2 poros ( 4 keping roda ) Leading Wheels kemudian 3 poros ( 6 keping roda ) Driving Wheels dan 1 poros ( 2 keping roda ) Trailing Wheels.
  • 4-6-2+2-6-4 : Berarti merupakan lokomotif tipe Garrat yang terdiri dari 2 mesin yang tiap mesinnya mempunyai susunan 2 poros Leading Wheels, 3 poros Driving Wheels dan 1 poros Trailing Wheels.
  • 4-8-8-4 : Berarti merupakan Lokomotif tipe Mallet yang mempunyai 2 poros Leading Wheels, 2 kelompok driving wheels yang terdiri dari 4 poros dan kemudian 2 poros trailing wheels. 4-8-8-4 merupakan lokomotif yang dikenal sebagai Bigboy di Amerika Serikat.



Gambar 3. Lokomotif  Union Pacific "Bigboy" dengan susunan roda 4-8-8-4

( sumber : http://www.steamlocomotive.com/bigboy/4019b.jpg )



Klasifikasi Susunan Roda Lokomotif di Indonesia
Di Indonesia susunan roda lokomotif akan ikut menentukan penggolongan kelas. Lokomotif di Indonesia di bedakan menurut susunan roda serta jenis transmisinya kemudian urutan serinya. 2 Huruf di kelas lokomotif Indonesia menunjukkan susunan rodanya. Sistem pengkodeannya hampir sama dengan AAR namun hanya menghitung roda penggeraknya saja.

Contoh susunan roda berdasarkan kelas lokomotif di Indonesia :
  •  CC : Lokomotif dengan 6 poros dengan 2 bogie yang masing-masing ada 3 poros roda berpenggerak
  •  BB : Lokomotif dengan 4 poros dengan 2 bogie yang masing-masing ada 2 poros roda berpenggerak atau Lokomotif dengan 6 poros dengan 2 bogie namun ada 1 poros roda tak berpenggerak dan 2 poros roda berpenggerak ( A1A-A1A )



Gambar 4. Lokomotif Indonesia kelas BB203, mempunyai 6 poros dengan susunan A1A-A1A menurut AAR


Gambar 5. Beberapa contoh perbandingan susunan roda lokomotif menurut klasifikasi AAR, UIC dan kelas loko Indonesia

Referensi:


Share:

Minggu, 13 Maret 2016

Akademi Perkeretaapian Indonesia (API)


Indonesian Railway Academy - Akademi Perkeretaapian Indonesia (API) atau sering disebut Sekolah Tinggi Ilmu Kereta Api (STIKA) adalah sekolah kedinasan yang berada di bawah naungan Badan Pengembangan SDM Perkeretaapian Perhubungan. API/ STIKA dibentuk sebagai pengembangan Program Studi Diploma III Perkeretaapian yang ada di STTD (Sekolah Tinggi Transportasi Darat) Bekasi. Sekolah yang didirikan pada 9 September 2009 ini beralamat di Jl. Tirta Raya, Kota Madiun Jawa Timur Tlp. (0351) 461597.

 Gambar Logo API
Sejarah Pendidikan Dan Pelatihan Perkeretaapian di Indonesia
Pada awal berdirinya DKA (Djawatan Kereta Api), Indonesia mempunyai sekolah khusus ahli kereta api, yaitu SATKA (Sekolah Ahli Teknik Kereta Api) dengan berubahnya bentu perusahaan sampai terakhir menjadi PT Kereta Api (Persero) tahun 1999, maka SATKA ditutup dan hanya ada pelatihan teknis bidang perkeretaapian, yang dilaksanakan di :
1. BPTT : Balai Pelatihan Teknik Traksi - di jogja. Untuk mendidik para tenaga perawat sarana dan masinis.
2. BPTP : Balai Pelatihan Teknik Perkeretaapian - di Bekasi, Untuk mendidik para operator KA Angkutan Perkotaan dan Tenaga perawat Jalan Rel.
3. BPTST : Balai Pelatihan Teknik Sinyal Telekomunikasi - Laswi, Untuk mendidik tenaga perawatan Peralatan persinyalan dan telekomunikasi.
4. BPLOPSAR : Balai Pelatihan Operasi dan Pemasaran - Dago, Untuk mendidik tenaga PPKA dan Manajer bidang Perkeretaapian.
Pada Tahun 2003, Direktorat Kereta Api berubah Menjadi Direktorat Jenderal Perkeretaapian dan membutuhkan SDM regulator perkeretaapian, Sehingga pada tahun 2004, Badan Pendidikan dan pelatihan perhubungan membentuk Diploma III Perkeretaapian di STTD (Sekolah Tinggi Transportasi Darat). Dengan berkembanganya pembangunan perkeretaapian di Indonesia, yang dituangkan dalam RIP NAS (Rencana Induk Perkeretaapian Nasional) tahun 2030 dan membutuhkan SDM Perkeretaapian yang banyak jumlahnya, maka di bentuklah Akademi Perkeretaapian Indonesia di Madiun.
Program Study dan Diklat Teknis
1.   Diploma III Teknik Jalan dan Jembatan KA
2.   Diploma III Teknik Sarana KA
3.   Diploma III Teknik Fasilitas Operasi KA
4.   Diploma III Operasi dan Lalulintas Angkutan KA
5.   Diklat Dasar Kereta Api
6.   Diklat Penguji Sarana dan Prasarana KA
7.   Diklat Penjaga Pintu Perlintasan PJL
8.   Diklat Pengatur Perjalanan Kereta Api
9.   Diklat Awak Sarana KA
10. Diklat Perencanaan KA
11. Diklat Keselamatan KA
Gambar Kegiatan Praktikum API

Pendaftaran
Bagi yang berminat melanjutkan pendidikan di API Madiun informasi pendaftaran dapat dilihat di http://bpsdm.dephub.go.id. API sendiri memiliki website official, http://www.api.ac.id/, tetapi hingga saat ini belum bisa dibuka. Sedangkan pertanyaan - pertanyaan biasanya dilakukan melalui fanpage facebook API di sini. 
Berikut beberapa persyaratan pendaftaran API tahun 2015 yang mungkin bisa dijadikan acuan untuk pendaftaran selanjutnya.

A. Persyaratan Administrasi
  1. Usia maksimum 23 tahun pada bulan September 2015;
  2. Jenis kelamin : Pria atau Wanita, khusus untuk Program Studi PKP-PK: Pria;
  3. Belum menikah dan sangup tidak menikah selama masa pendidikan dibuktikan dengan surat pernyataan;
  4. Tinggi badan minimal Pria 160 cm dan Wanita 155 cm, khusus untuk Program Penerbang minimal Pria 167 cm dan Wanita 160 cm dan Program PKP-PK minimal 165 cm;
  5. Menyerahkan Pas Photo terbaru ukuran 4 x 6 sebanyak 2 lembar berwarna dengan latar belakang merah dan foto copy STTB, nilai UN, Akte Kelahiran dan Surat Keterangan Belum Menikah dari Kelurahan/Desa;
  6. Bagi yang masih duduk di Kelas III SLTA, membawa Surat Keterangan dari Kepala Sekolah sebagai Peserta UN;
B. Biaya Pendaftaran
  1. Membayar biaya pendaftaran, dengan ketentuan sebagai berikut:
    1. Untuk Program Studi Transportasi Darat sebesar Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah);
    2. Untuk Program Studi Transportasi Laut sebesar Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah);
    3. Untuk Program Studi Transportasi Udara sebesar Rp. 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah);
  2. Membawa bukti pembayaran uang pendaftaran yang telah disetorkan :
    1. Ke Rekening Bendahara Penerima, bagi yang mendaftar pada Satker/UPT BPSDMP;
    2. Ke PT. Bank BNI Tbk. Kantor Cabang Utama Harmoni atas nama Rekening Bendahara Penerima Badan Pengembangan SDM Perhubungan iiNomor 0018315478 atau bukti Pos Wesel yang ditujukan kepada Badan Pengembangan SDM Perhubungan Jl. Medan Merdeka Timur Nomor 5 Jakarta, bagi yang mendaftar pada Dinas Perhubungan.

C. Tata Cara Pendaftaran
Peserta datang sendiri ke Lokasi Pendaftaran dan mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan atau dapat diakses ke Website Institusi Pendidikan dan Pelatihan Perhubungan masing-masing;

D. Jenis dan Tahapan Seleksi
  1. Seleksi Administrasi meliputi kelengkapan persyaratan administrasi;
  2. Seleksi Potensi Akademik;
  3. Seleksi Kesehatan, Kesamaptaan, Psikotes, dan Wawancara dilaksanakan di masing-masing lokasi pendaftaran berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.

E. Lain-lain
  1. Pendaftaran dimulai tanggal 30 Maret s.d. 1 Juni 2015;
  2. Tes Potensi Akademik dilaksanakan pada tanggal 16 Juni 2015;
  3. Tidak diadakan surat menyurat antara peserta seleksi dengan Panitia Seleksi Penerimaan Calon Taruna Pendidikan dan Pelatihan Perhubungan;
  4. Hasil Seleksi Akademik dan Pantukhir akan diumumkan pada website Kementerian Perhubungan (www.dephub.go.id), BPSDMP (bpsdm.dephub.go.id) dan lokasi pendaftaran;
  5. Program Studi STTD dan PKTJ Tegal dapat menerima peserta berstatus PNS/BUMN yang mendapat tugas belajar dari Instansinya dengan usiaImaksimum 30 tahun pada bulan September 2015;
  6. Uang pendaftaran tidak dapat ditarik kembali bila sudah disetorkan.
D.III TBJP (Teknik Bangunan dan Jalur Perkeretaapian)
SMU/MA (IPA)
SMK Jurusan Teknik Bangunan
D.III TEP (Teknik Elektro Perkeretaapian)
SMU/MA (IPA)
SMK jurusanTeknik Elektro, Teknik Komunikasi, Teknik Listrik, Teknik Komputer Jaringan
D.III TMP (Teknik Mekanika Perkeretaapian)
SMU/MA (IPA)
SMK Jurusan Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Otomotif, Teknik Mesin, Teknik Listrik, Teknik Elektro
D.III MTP ( Manajemen Transportasi Perkeretaapian)
SMU/MA (IPA)
SMK Jurusan Teknik Bangunan, Teknik Mesin, jurusanTeknik Elektro, Teknik Komunikasi, Teknik Listrik, Teknik Komputer Jaringan, Teknik Otomotif

Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Akademi_Perkeretaapian_Indonesia

http://bpsdm.dephub.go.id/statics/sipencatar
Share:

Jumat, 11 Maret 2016

Dunia Listrik - C vs C++


Dennis Ritchie of the Bell Labs designed the C, a general purpose computer programming language in 1972 for use with UNIX, an operating system of then. C is predominantly used for system software programming, but is also very useful for creating general application software. Some of the adjectives used to describe C are block structured, imperative & procedural language.
C++(originally named "C with Classes" and still known as the superstructure of C in computer circles) was developed as an enhancement of C by Bjarne Stroustrup in 1983 at the Bell Labs. Stroustrup, in 1979, started by adding classes, virtual functions, operator overloading, multiple inheritance, templates, exception handling etc. The C++ programming language standard was ratified as ISO/IEC 14882:1998 in 1998 and the current version is the 2003 version, ISO/IEC 14882:2003 which is infact the corrected version of the C++ 1998. The "Library Technical Report 1", released in 2005 gives details of extensions to the standard library without being a part of the standar version. A new version of the standard (informally known as C++0x) is under development. C++ has been a highly successful commercial programming language since 1990. Though C++ is royalty-free, its documentation is not freely available.
Here are some differences between C and C++
Typing Discipline
Static, Weak
Static, Strong, Unsafe, Nominative
Paradigms
Imperative (procedural) systems implementation language
Multi-paradigm, Object-Oriented, Generic, Procedural, Functional, Meta
Designed by
Dennis Ritchie
Bjarne Stroustrup
Influenced
awk, csh, C++, C#, Objective-C, BitC, D, Concurrent C, Java,JavaScript, Limbo, Perl, PHP
Ada 95, C#, Java, PHP, D, Aikido
Influenced by
B (BCPL,CPL), ALGOL 68, Assembly
C, Simula, Ada 83, ALGOL 68, CLU, ML
Major Implementations
GCC, MSVC, Borland C, Watcom C
GNU Compiler Collection, Microsoft Visual C++, Borland C++ Builder, Intel C++ Compiler, LLVM/Clang
Appeared in
1972
1985
Garbage Collection
Manual; allows better management of memory.
No GC available on the C++ standard library (STD). However, STD provides efficient and deterministic ways to manage resource such as object ownership and reference counting.
Speed
C applications are faster to compile and execute than C++ applications
+-5% when compared with C if you know how to make a good use of C++. The performance of C++ and C programs can often be equal, since compilers for both languages are mature.
Usual filename extensions
.c
.cc, .cpp, .cxx, .h, .hh, .hpp
Programming-include
#include
#include
Platforms
Almost anything on the planet; requires recompile
Almost anything, including OS-based and non OS-based platforms
Programming-String type
No native string type; often declared as an array of characters
Array, std::string
OOP (Object Oriented Programming)
Not built in; freedom to setup structures to act like objects. Lacks the ability to declare encapsulation.
Built in; size and memory layout of objects is deterministic. Virtual function calls can be done without vtable via CRTP.
Classes
Uses structures instead, and hence bestows more liberty to use internal design elements
class and struct
Programming-input /output
scanf for input;printf for output
iostream, fstream (std::cin, std::cout)
Language Type
Procedural Oriented Language
Multi-Paradigm Object Oriented Language
Developed by
Dennis Ritchie & Bell Labs
Bjarne Stroustrup
Execution Flow
Top to Bottom
Top to Bottom
Object-oriented
Not natively
Yes
Generic Programming
No
Yes
Procedural Programming
Yes
Yes
Functional Programming
Yes
Partial
Metaprogramming
No
Yes
Reflection
No
No
code
Compiled to native binary executable files
Compiled to native binary executable files
Inline comments delimiter
//
//
Block comments delimiter
/* and */
/* and */
Statement terminators
;
;
Multidimensional arrays supported
Yes
Yes
Arrays dynamically sized
No
No
Platform
Any that has a compiler
Any that has a compiler

References:

Share:

Translate

Tentang Penulis

Tentang Penulis
[click foto utk detail]

Follow IG

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Highlight

Dunia Kereta - Flywheel: Solusi Efisiensi Energi Kereta Listrik

Seperti telah kita pelajari bersama pada Sistem Propulsi Kereta Rel Listrik (KRL)  bahwa pada KRL memungkinkan tiga jenis pengereman yaitu ...

Flag Counter

Flag Counter